Rabu, 23 Oktober 2013

Jogja dan semua tentangmu... (part I)

Berawal dari tahun 2006 aku memutuskan untuk pindah jurusan alias "downgrade" dari kuliah D3 ke D1 dan memulai pendidikan di Jogja. Keputusan yang sangat kontroversial menurut mereka yang tidak merasakan atau tidak mengerti alasan, tujuan pilihan ini dan konsekuensinya.

Jogjakarta, sebuah kota indah yang penuh dengan pesona, terutama keramahan masyarakatnya.. Setahun di sana sudah cukup membuatku jatuh cinta. Menuntut ilmu ditempat yang luar biasa, ya tepatnya di Kalasan, Sleman, di sebuah kampus kecil tepi sawah dengan terpaan hangat sinar mentari, hembusan angin menyeruak ilalang, kicau burung di sana-sini menyajikan pemandangan indah pagi hari, senja temaram hingga purnama ditemani sejuknya embun dini hari pernah kurasakan di sana. Semua rasa pernah tumpah di sana, sedih, senang, bingung, cemas, dan bangga mengiringi hari-hari tinggal di sana. Mulai dari daftar ulang, kuliah perdana, ujian, hingga kelulusan. 

Selepas meninggalkan Jogja karena melanjutkan pendidikan, rasa rindu tetap mengisi hati ini. Sampai tahun ke lima kelulusan agenda ke Jogja selalu ada, meski sekedar menjenguk keluarga ibu kos dan kampus tercinta. 





Kamis, 25 Juli 2013

Rabu, 26 Juni 2013

Memperjuangkan Nurani Melompati Rules

Mentari menyisakan cahaya merah, menembus awan sisa-sisa hujan. Itulah sedikit pemandangan dari celah jendela ruang rapat lantai 2 sore ini. Ruangan terasa cukup panas, bukan saja karena hanya satu buah AC yang dinyalakan tapi lebih tepatnya karena panasnya suasana rapat panitia lelang kali ini. Empat dari lima orang panitia berkumpul untuk memutuskan kesepakatan pemenang lelang yang sudah menyentuh deadlock. Empat kepala dengan empat isi pemikiran berbeda akhirnya mengerucut pada 2 ujung kesepakatan yang berbeda, kalau tidak dibilang bertolak belakang.

Kami sadar semua rules telah dibuat step by step untuk mencapai ultimate goal. sedangkan tujuan utama kita adalah mendapat supplier yang kompeten, efisien dalam budget dan efektif mencapai output serta tepat waktu. Namun apa daya, rules yang telah dibuat memang ada beberapa hal yang bersifat subjektif. Sekuat apa pun usaha untuk memenuhi syarat objektif kadang masih berbenturan dengan subjektivitas. Al hasil perbedaan kesimpulan menjadi jalan masuk kepentingan-kepentingan tertentu atau bahkan atas dasar suatu kepentingan kesimpulan bisa diarahkan bertameng rules. Inilah yang dikenal dengan "conflict of interest".

Konflik ini bukan masalah atasan dan bawahan, bukan antara supplier A dan B, tapi masalah nurani untuk memilih mana yang terbaik. Semua bisa berkilah dengan rules yang membolehkan si A atau B yang menang tapi nuranilah yang kami perjuangkan. Dua keputusan yang berbeda, dan yang kami perjuangkan adalah memenangkan nurani meski kadang beresiko. Ya, kami sepakat untuk menerima resiko karir dan pengadilan jika kami harus mempertanggungjawabkan pilihan nurani ini.

Debat panjang memakan waktu yang lama, adu argumen, retorika dan bantahan terus mengalir bersama turunnya senja memerah. Ujungnya, menyisakan perbedaan yang cukup tajam dan takkan ada habisnya, kecuali setelah kami dengar kumandang adzan.. 

Minggu, 23 Juni 2013

Independensi (in fact and in appearance)

Independensi bukan kata asing yang lekat dengan para akuntan, baik pendidik maupun praktisi. Inilah kata terberat yang dipikul dalam kode etik seorang akuntan. Janganlah akuntan sebagai auditor di perusahaan publik, bagi para akuntan di sektor publik (pemerintah) aja sudah kerap mengalami benturan dalam hal independensi. 

Independensi in appearance, lebih mudah dipahami cara pandang orang lain dalam menilai independensi kita. Misal, si A dikenal akuntan yang jujur dan tegas. Beberapa kali si B bertemu si A di suatu tempat makan bersama seorang supplier X. Sekalipun supplier X dikenal track record yang bagus, demikian juga si A, dari penilaian si B dapat mendorong bias nilai independensi dari si A. Bukan apa-apa, bukan pula pertemuan mereka menjadi bukti, tapi appearance mereka menurun dari sisi eksternal.

Jumat, 08 Maret 2013

Belajar Berfikir Positif (lagi)..

Setiap manusia telah diciptakan dengan sempurna, akal dan hati sebagai instrumen keseimbangan, bekal menghadapi kehidupan. Kedua harus dipakai sesuai tempatnya dan harus bersinergi. Dominan pada salah satunya akal menimbulkan ketidakseimbangan dalam menentukan langkah-langkah hidup kepada diri sendiri atau reaksi terhadap lingkungan. Lalu bagaimana cara kita menilai kerja seimbang akal-hati kita? Ada dari reaksi balik lingkungan kepada kita. Bersyukurlah jika lingkungan telah menerima kita dengan baik berarti sebagian besar sikap kita telah dibuat dari sinergi akal-hati yang tepat. 

Bagaimana yang merasa belum mendapat reaksi balik dari lingkungan dengan memadai (baik dari persepsi kita). Mungkin banyak faktor yang mempengaruhi, external maupun internal. Hanya faktor internal, yang kita bahas kali ini. 

Akal
Dari sisi biologi, 




Kamis, 17 Januari 2013

Juru Parkir

Cilacap,   Januari 2013

Siang itu langit kota Cilacap cukup terang. Aku menikamti perjalanan dari rumah menuju rumah kos Ade di sekitar sekolahnya. Sekitar tiga puluh menit untuk 40km jarak kutempuh.