Jumat, 30 Desember 2011
Resolusi vs Koservatisme
kalender mulai terlihat usang.. tapi bukan karena wujudnya yang hampir satu tahun menempel di dinding kamar ini. dia jadi usang karen mata ini memberi kabar ke otak, "hey, tahun ini akan berakhir"
Kamis, 29 Desember 2011
Desember: Bukan Penghujung Harapan
Hampir lupa untuk menulis lagi di blog ini.. Ya, ini bulan Desember..
Bulan penguhujung tahun masehi sekaligus bulan evaluasi seluruh pencapaian kerja tahun ini..
itu di kantorrrr bro.. kali ini lagi males ngomongin kantor dah..
Sebagai cerminan, memang target tahun ini ada progres yang bagus untuk menapaki tahun depan meskipun sampai hari terakhir tahun 2011 ternyata masih banyak target yang meleset atau bahkan tidak tercapai.
Sadar benar bahwa rasa syukur harus menjadi awal kata atas pencapaian tahun ini, terutama masalah karir dan pendidikan. Sebaliknya, menghadapi kenyataan banyaknya kegagalan atau target yang belum tercapai hal pertama adalah..... ya, apa? tersenyum? menyesal? atau justru bersyukur?
Ssipp jawaban itu benar?
Tersenyum? harus itu.. kenapa? ya itu lah wajahku sendiri.. (siapa lagi yang mau senyum kalau bukan aku sendiri hihii....)
Menyesal? ga perlu bro.. u have done the best... except one point.. what is it? it's a secret..
menyesal kalau kamu masih belum mau jujur bahwa kamu gagal dalam beberapa hal.
Masalah apa? bisnismu yang hancur itu? berapa sih 40 juta? heii sadar... itu uang siapa? uangmu? ckckckkck.. jelas-jelas itu uang milik Alloh 'azza wajalla.. kamu siapa.. hasil tabunganmu satu tahun gaji? ahh.. kamu satu tahun masih bisa dapat nafas gratis itu ada ga 40 juta? berapa..? yang jelas lebih dari 40 juta kan.. jangan-jangan itu yang terbaik atau yang paling mudah untuk kita daripada cara Alloh yang lain.. jadi musibah itu pun ga boleh disesali bahkan disyukuri..
What? bersyukur?
ingatkah nasihat Ibnu Batthul tentang apa-apa yang terjadi untuk kita memang telah tersurat dalam lauhful mahfudz. Sekalipun itu musibah yang menurut manusia adalah perkara menyusahkan dan memberatkan, yakinlah dan ketahuilah bahwa musibah itu adalah terbaik disisi Alloh 'azza wajalla bagi manusia.
Kegagalan tahun ini dua hal yang pokok: bisnis dan nikah..
Masalah bisnis, ingat baik-baik hal-hal ini:
- jangan pernah lagi percaya pada orang lain kecuali dia yang pernah berkorban untukmu..
- jangan menunda ikut training graphology for business..
- jangan benturkan masa depanmu dengan target jangka pendek meski menggiurkan..
Di sisi lain, tahun ini aku dapatkan kembali sahabat yang pernah hilang. Sosok sahabat yang muncul untuk kedua kalinya pada salah seorang sahabatku. Ya, kami adalah duo pesaing sejak di bangku kuliah, mulai dari bangun pagi, menghafal qur'an, mengerjakan tugas, olahraga sampai IPK. Tak jarang kami mengalami "sleek" karena masalah persaingan ini. Namun, kalau dikenang ternyata lebih banyak kekompakan diantara kami, seperti tradisi bersarung, mudik, kebut-kebutan motor, sampai masalah tipe wanita idaman.. hihihi lucu kalau diingatt... Sosok sahabat itu muncul lagi ketika kami sama-sama jatuh, tapi dia dapat ujian lebih karena sekarang dia menanggung tambahan dua jiwa. Ketika ujian ini datang, masih ingat saat suaranya berubah menceritakan beberapa bisnisnya yang hancur, utang bertumpuk dan ancaman-ancaman yang mungkin terjadi atas dia. Saat-saat itulah kami temukan perasaan senasib dan semangat untuk bangkit kembali. Mulai dari bermitra dalam bisnis sampai bagi-bagi tips pernikahan. Bro, semoga persahabatan ini menjadi jalan membawa kita ke syurga kelak. Amin.. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ujung tahun bukan lah penghujung harapan. Harapan itu masih ada, masih terbuka lebar.. kamu tidak sendiri, kita akan bersama menghadapi setiap tantangan tahun depan..
Masalah kegagalan kedua mau aku tulis apa ya.. mengertilah, ini diluar kendaliku.. Mungkin joke yang cocok untukku kali ini adalah "aku memang belum bisa memberi ibuku apa-apa, apalagi seorang menantu"
Hahaha itu joke kalau temen-temen mulai meledek..
Biarlah itu menjadi pelajaran buatku. Tahun ini memang belum menemukan siapa jodohku tetapi aku yakin dan husnudzon Alloh telah menyiapkan yang terbaik untukku. Tugasku hanya memperbaiki diri dan memperbaiki diri. itu saja.. eh, jangan lupa nabung untuk keperluan menuju hari H dan setelah berumah tangga kelak..
Harapan tidak berakhir bersama berakhirnya tahun ini.. Masih ada harapan di tahun depan. Sukses atau tidaknya tahun depan tergantung pada ikhtiarku sendiri.. Ingat, jangan menyesali kegagalan yang tekah terjadi, jangan berhenti belajar, jangan berhenti memperbaiki diri dan tetaplah husnudzon kepada ketentuanNya kelak.. Semoga hidupku ada perbaikan yang signifikan di tahun depan.. Amin..
Senin, 28 November 2011
Kisah Nyata: "Kalimat terakhir Hidup Seorang Hamba"
Cerita ini mengaingatkanku pada masa-masa pergeseran dari masa remaja menjadi dewasa. Pertama kali kudengar lewat sebuah radio islam, tepatnya di awal tahun ketiga kuliah di kota perantauan atau 4 tahun yang lalu, bersamaan dengan momentum semangant keinsyafan dan keinginan perubahan diri untuk menjadi lebih baik. Cerita ini masih jelas kuingat karena benar-benar menyulut semangatku untuk hidup menjadi manusia yang bermanfaat, baik menjadi seorang anak, seorang warga negara, mahasiswa dan orang tua kelak.
Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menusuk tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya… Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas nama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…
Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…
Dan aku sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Alloh 'azza wajalla menagampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkan untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman syurga.. Amin.
Azzamul Qadim hal 36-42
Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]
Rabu, 16 November 2011
Langit, Laut, Savana dan Jalanan Hati ini...
Berdiam diri di bawah naungan langit mendung ini.. Hujan akan menjadi sahabat bagiku, ya cukup membasahi badan ini, meresap hingga ke hati.. setidaknya menyegarkan jiwa meski sesaat..Sendiri, menyepi dalam senyapnya udara dingin bagiku ini bukan penjara.. hanya saja, tak mampu lagi jika tuk menatap langit.. dia jauh di sana, sulit kugapai.. sementara di sini, jiwa telah terpaku bumi..
Kemarin, aku berlari ke pantai.. kurasa ujungnya dekat dengan langit di sisi horizon..
Puaskah aku dengan hanya menatapnya saja? Ah..., tentu... tidak.
ku coba kayuhkan perahu ke sana, tapi apa? batas horizon ternyata ilusi saja..
masih tak kuasa jika apa yang kulihat ternyata tak bisa kudapat..
Jiwaku makin tak percaya, apa dia akan tetap ada..
Masih kuingat hari itu, hari di savana.. indahnya ilalang mampu menghancurkan sedikit penantianku..
Dia hadir di setiap indahnya daun-daun ilalang.. ku kejar satu-satu ilalang dia bernaung..
Memang kugapai tapi segera mataku berlari mencari ilalang kedua tempat dia berlindung..
Tanpa berfikir segera kukejar dia.. kini ku yakin dia kutangkap.. tapi lagi-lagi dia berlari.. ya, pindah ke ilalang yang lebih lebat..
Segera lagi kugapai.. tapi ya, dengan lebih cepat dia telah berpindah.. hingga senja turun, tanpa kusadari kakiku telah siap menginjak hutan.. ah.. aku terjebak..
Kerikil-kerikil serta batu yang kupijak diperjalanan pulang, menyadarkanku akan pencarianku selama ini.Jalan-jalan tanah ini sudah usang dan seharusnya kini diaspal. Sama seperti hatiku, sudah perlu penguat..
Dia yang kuharapkan di sini, berjalan menapaki kerikil-kerikil kehidupan tak jua kutemui.. agar bisa saling berpegangan saat jalan menjadi lumpur, atau terkikis berbatu hingga genangan banjir yang menghapus arahnya..
Dia yang kuharapkan di sini, berjalan menapaki kerikil-kerikil kehidupan tak jua kutemui.. agar bisa saling berpegangan saat jalan menjadi lumpur, atau terkikis berbatu hingga genangan banjir yang menghapus arahnya..
Dalam heningnya malam yang menyayat, kini aku tertunduk dengan perasaan sakit. Hati yang telah terkikis... jiwa yang telah padam. Akankah kutemukan nyala apiku lagi? aku tak mengerti dengan apa yang kulakukan.
Beginilah..., apa yang harus kujalani. Berjalan... dan terus berjalan, seorang diri, melewati setiap malam senyap tanpa arti.
Tapi kuakui, ketika kupejamkan mata ini, dia... selalu menggenggam tanganku. Dia... bersamaku.
Saat aku melangkah, dia berjalan disisiku. Dia menghangatkanku dari rasa senyap yang dingin. Dia... mengembalikan setiap kekosongan dalam jiwa. Sebuah pelengkap fitrah.. Ah.. aku masih bermimpi..
Beginilah..., apa yang harus kujalani. Berjalan... dan terus berjalan, seorang diri, melewati setiap malam senyap tanpa arti.
Tapi kuakui, ketika kupejamkan mata ini, dia... selalu menggenggam tanganku. Dia... bersamaku.
Saat aku melangkah, dia berjalan disisiku. Dia menghangatkanku dari rasa senyap yang dingin. Dia... mengembalikan setiap kekosongan dalam jiwa. Sebuah pelengkap fitrah.. Ah.. aku masih bermimpi..
"Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu". – Imam Nawawi
Catatan 30menit disela waktu penyusunan kontrak..
Minggu, 23 Oktober 2011
Jadilah cinta sejati..
Malam menjelang istirahat menjadi waktu yang indah untuk merenung. Apalagi kalau bukan masalah orang-orang dan cinta mereka. Suatu malam sebuah pertanyaan muncul satu tema kecil di pikiranku. Ya, tentang cinta sejati, suatu keniscayaan di alam modern ini.
Adakah cinta sejati? Bagaimana kau tahu bahwa orang yang kau cintai sekarang adalah cinta sejatimu? Lalu orang yang kukasihi berkata….. “Itu pertanyaan yang berat!”Lalu ia mulai menceritakan suatu kisah dari seorang bijak yang pernah ia dengar:
Alkisah datanglah seorang anak menghadap ayahnya dan bertanya, “Ayah bagaimana aku bisa mencari dan menemukan cinta sejatiku? Lalu setelah aku menemukan satu yang aku sukai, bagaimana aku tahu kalau ia adalah cinta sejatiku?”
Ayah yang bijak tersenyum menatap anaknya. Dia menuntun anaknya ke suatu tempat; di tepi hutan yang lebat. Sang Ayah lalu menunjuk ke arah hutan itu.
“Anakku, masuklah ke dalam hutan di sebelah kananmu, pilihlah satu pohon yang kamu sukai. Setelah itu berjalanlah engkau hingga sampai ke tepi hutan yang lain. Ingatlah, setelah kamu memilih satu pohon, kamu tidak dapat memilih pohon yang lain, dan kamu harus terus berjalan maju tanpa boleh kembali berbalik kebelakang melalui jalan yang kamu sudah lalui.”
Sang anak mengangguk mengerti dan memulai perjalanannya. Di awal perjalanannya ia melihat beberapa pohon yang indah yang ia sukai bahkan ia menemukan pohon yang mendekati sempurna di tengah perjalanan, tetapi ia belum memutuskan untuk memilih karena ia masih ingin tahu apa yang akan ia temukan di depan dan berharap untuk menemukan pohon yang lebih baik.
Tapi hingga di akhir perjalanan ketika ia hampir tiba di tepi hutan, ia belum memilih dan pohon yang tersisa di hadapannya tak lagi indah, bahkan beberapa terlihat buruk. Akhirnya ia memutuskan untuk memilih satu pohon yang ia anggap terbaik dari antara pohon-pohon yang buruk. Ia merasa tidak puas namun ia harus memilih. Ketika ia sampai di tepi hutan dan bertemu ayahnya dan menceritakan apa yang sudah ia alami. Ayah yang bijak hanya terenyum dan menyuruhnya masuk ke sisi hutan yang lain dan memberi anaknya kesempatan kedua untuk memilih dengan peraturan yang sama.
Ayah yang bijak tersenyum menatap anaknya. Dia menuntun anaknya ke suatu tempat; di tepi hutan yang lebat. Sang Ayah lalu menunjuk ke arah hutan itu.
“Anakku, masuklah ke dalam hutan di sebelah kananmu, pilihlah satu pohon yang kamu sukai. Setelah itu berjalanlah engkau hingga sampai ke tepi hutan yang lain. Ingatlah, setelah kamu memilih satu pohon, kamu tidak dapat memilih pohon yang lain, dan kamu harus terus berjalan maju tanpa boleh kembali berbalik kebelakang melalui jalan yang kamu sudah lalui.”
Sang anak mengangguk mengerti dan memulai perjalanannya. Di awal perjalanannya ia melihat beberapa pohon yang indah yang ia sukai bahkan ia menemukan pohon yang mendekati sempurna di tengah perjalanan, tetapi ia belum memutuskan untuk memilih karena ia masih ingin tahu apa yang akan ia temukan di depan dan berharap untuk menemukan pohon yang lebih baik.
Tapi hingga di akhir perjalanan ketika ia hampir tiba di tepi hutan, ia belum memilih dan pohon yang tersisa di hadapannya tak lagi indah, bahkan beberapa terlihat buruk. Akhirnya ia memutuskan untuk memilih satu pohon yang ia anggap terbaik dari antara pohon-pohon yang buruk. Ia merasa tidak puas namun ia harus memilih. Ketika ia sampai di tepi hutan dan bertemu ayahnya dan menceritakan apa yang sudah ia alami. Ayah yang bijak hanya terenyum dan menyuruhnya masuk ke sisi hutan yang lain dan memberi anaknya kesempatan kedua untuk memilih dengan peraturan yang sama.Dengan langkah yang cepat sang anak kembali masuk kedalam hutan dan berdasarkan pengalamannya, ia dengan cepat memilih pohon yang indah dan ia sukai di awal perjalanannya. Namun, ia kembali kecewa ketika memasuki hutan lebih dalam, ia menemukan beberapa pohon yang lebih indah, lebih baik dan lebih sempurna. Namun sayangnya, ia tidak bisa memilih lagi karena ia sudah terlanjur memilih di awal perjalannya tadi. Ia kembali menceritakan pengalamannya pada ayahnya yang sudah menunggunya di tepi hutan.
Lalu sang Ayah berkata, “Anakku…. Hutan ini adalah lingkup hidupmu. Perjalananmu di hutan bagaikan perjalanan hidupmu. Sepanjang perjalanan hidupmu, kamu akan menemukan banyak wanita (pria) disekitarmu. Kamu hanya bisa memilih satu dalam hidupmu dan tidak akan pernah tahu siapakah cinta sejatimu. Mungkin kau akan melewatkan beberapa yang indah untuk menemukan yang lebih baik sampai akhirnya di satu waktu kau kecewa karena tidak ada lagi gadis (pria) terindah yang bisa kau pilih menjadi pendamping hidupmu. Sehingga kamupun terpaksa harus memilih yang terbaik dari antara yang kurang kamu sukai. Atau bisa saja kamu sudah memilih yang kamu anggap terindah di satu waktu di tengah perjalanan hidupmu. Kau akan bahagia di satu waktu dengannya.
Namun di masa berikutnya, kau akan kembali kecewa karena kau melihat dan bertemu dengan orang-orang yang lebih baik. Dan kau akan menyesal karena tidak sabar menunggu lebih lama untuk mendapatkan yang lebih baik Anakku, cinta sejati bukanlah berarti yang terbaik menurutmu, cinta sejati adalah pilihan terbaikmu di suatu masa hidupmu. Bukanlah masalah kalau ia tidak sebaik orang di masa lalumu atau di masa depanmu. Pilihan, apabila sudah ditetapkan, adalah hal yang harus kau pertahankan sepanjang sisa hidupmu. Terbaik atau tidak, indah atau buruk, bergantung pada pandanganmu dan caramu menilai. Maka itu, jadikanlah pilihanmu menjadi yang terbaik sepanjang hidupmu.
Namun di masa berikutnya, kau akan kembali kecewa karena kau melihat dan bertemu dengan orang-orang yang lebih baik. Dan kau akan menyesal karena tidak sabar menunggu lebih lama untuk mendapatkan yang lebih baik Anakku, cinta sejati bukanlah berarti yang terbaik menurutmu, cinta sejati adalah pilihan terbaikmu di suatu masa hidupmu. Bukanlah masalah kalau ia tidak sebaik orang di masa lalumu atau di masa depanmu. Pilihan, apabila sudah ditetapkan, adalah hal yang harus kau pertahankan sepanjang sisa hidupmu. Terbaik atau tidak, indah atau buruk, bergantung pada pandanganmu dan caramu menilai. Maka itu, jadikanlah pilihanmu menjadi yang terbaik sepanjang hidupmu.
Janganlah terus mencari cinta sejati, tetapi jadilah cinta sejati bagi pasanganmu. Niscaya kau akan mendapatkan hidup yang lebih indah.
Anak itu meninggalkan ayahnya sambil terus berfikir tentang kata-kata ayahnya. Ia memutuskan untuk menemukan pilihannya yang akan menjadi cinta sejatinya.
Teman….sudahkah kau menemukan cinta sejatimu? Dan maukah kau memutuskan untuk menjadi cinta sejati bagi orang yang sudah kau pilih?
Selasa, 18 Oktober 2011
Peran Laki-laki dan Wanita Shalih...
Bila langkah kaki kita salah, kita sendirilah yang akan bertanggung jawab. Jika karya kita buruk, kita sendirilah yang akan di-hisab (dihitung). Saat perut kita serakah, kita sendirilah yang akan memuntahkannya kelak di akhirat. Kalau kita lengah, kita sendirilah yang meratapinya di hari kiamat kelak.
Itulah yang sejak dulu dipahami orang-orang shalih, yang pernah singgah dan berjaya di muka bumi ini dengan keshalihannya. Kepada mereka, kita sampaikan doa dan penghormatan. Lalu bertekadlah bulat-bulat, bagaimana agar kita setegar mereka.
Suami shalih
Ibrahim as merupakan sosok suami shalih yang dikisahkan Al-Qur’an. Selain sibuk berdakwah dengan segala kiatnya, ia juga sangat mencintai keluarganya. Karenanya, ketika ia harus meniggalkan Hajar, istrinya, ia pasrahkan istrinya kepada Allah. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak punya tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati.” (QS Ibrahim 37).
Pelajaran: Dengan keshalihan yang handal, Ibrahim membangun logika terbalik. Ia justru memohon buah-buahan padahal sebelumnya ia berkata bahwa di tempat istrinya itu tidak ada tanaman. Bagaimana ada buah tanpa ada tanaman? Ibrahim yakin semua itu mudah bagi Allah. “…dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim 37).
Wanita shalihah
Istri Shalihah
Istri Fir’aun merupakan teladan istri shalihah. Ia bagian dari keluarga Fir’aun tapi bisa menjadi wanita shalih. Ia juga berperan menyelamatnya Musa as. Semua telah diatur oleh Allah swt. Ia sangat mengharap bisa masuk surga, “Ya Rabb-ku bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim” (QS At-Tahrim: 11).
Pelajaran: keshalihan tidak tergantung lingkungan, meski lingkungan turut mempengaruhi. Seburuk apapun lingkungan seorang muslimah, tak ada yang beban hidupnya seperti hidup bersama Fir’aun. Tapi istri Fir’aun mampu menjaga keshalihan. Bagaimana dengan kita yang hidup di tengah kaum muslimin?
Pemuda shalih
Ashabul Kahfi adalah para pemuda yang lari dari kekejaman penguasa di zamannya, lantaran mempertahankan agama mereka. Hidup di zaman penuh dengan kekafiran. Akhirnya mereka lari ke gua. Dan Allah menidurkan mereka selama 309 tahun. Kisah mereka Allah kabarkan dalam surat Al Kahfi.
Pelajaran: siapa yang konsisten menjaga keshalihan, Allah pasti akan memberi jalan keluar bila keshalihan tersebut mendapat rintangan. Secara teknis harus tetap dicari strategi terbaik. Tapi Allah sendiri telah menjamin, “Sesungguhnya Allah telah membela orang-orang yang beriman” (QS. Al Hajj: 8). Maka, lari meninggalkan keshalihan sama buruknya dengan mencari jalan aman kepada selain keshalihan itu sendiri.
Anak Shalih
Ismail as putra Ibrahim as. Prestasi keshalihannya yang paling menonjol adalah sikapnya saat akan disembelih ayahnya. Sebuah ketegaran yang luar biasa. Kepasrahan kepada perintah Allah yang tiada terkira serta bakti kepada orang tua tercinta.
Pelajaran: sabar menjaga keshalihan dan taat kepada Allah akan mendapat balasan yang jauh lebih baik dari kesabaran itu sendiri. Allah mengganti domba untuk disembelih dan menjadikan peristiwa itu sebagai syariat yang kekal hingga kiamat. Bagaimana dengan kita? Bukanlah bentuk ketatan itu kini tidak lagi harus siap disembelih?
Tak ada orang yang punya kekuasaan seperti Sulaiman as, bahkan sampai kapan pun. Tapi kekuasaannya itu justru membuatnya semakin shalih. Bukan sebaliknya. Ia berkata, “ini adalah karunia Rabbku, untuk menguji apakah aku bersyukur atau ingkar” (QS. An-Naml: 40).
Pelajaran: Siapapun yang berkuasa di muka bumi ini tidak ada yang bisa menyamai Sulaiman as. Tapi Sulaiman as menjadi penguasa yang shalih. Bagaiman dengan kita? Bila di antara kita ada yang menjadi penguasa, yakinlah bahwa kekuasaan itu tak ada seujung kuku dibanding kekuasaan Sulaiman as. Lalu mengapa mesti sombong dan semena-mena? Tidaklah kita meneladani keshalihan Sulaiman as?
Pejabat shalih
Yusuf as memimpin jabatan yang ‘basah’ tapi tidak terfitnah. Dua hal yang menonjol dari sikap Yusuf as. Pertama, kemandirian. Sejak pertama ia berdiri atas nama dirinya sendiri. Tidak dipengaruhi kepentingan orang lain, apalagi yang kotor. Kedua, ia bekerja profesional, tidak karena kepentingan dan ambisi politiknya.
Pelajaran: keshalihan mutlak diperlukan bagi siapa saja yang memegang amanah atau jabatan tertentu. Keshalihan akan menjadi pebimbing seorang pejabat pada saat banyak benturan kepentingan menggodanya. Bagaimana dengan kita? Seberapa jauh jabatan kita disangga iman yang kuat? Ataukah sekadar wujud keserakahan kita?
Militer/tentara shalih
Pelajaran: Keshalihan dan keahlian harus diutamakan dalam memilih pemimpin, bukan senioritas atau popularitas. Keshalihan akan membimbing segi konsepsi dan hukum. Sedang keahlian mengajari strategi dan teknik oprasional. Sejauh mana kita membekali diri dengan keshalihan dan keahlian? Bukankah hidup itu keras dan berat? Bukankah musuh-musuh Islam itu keras dan berat?
Ilmuwan shalih
DzulQarnain terkenal pandai di zamannya. Ia membawa ilmu baru yang belum dikenal oleh penduduk yang tinggal di antara dua buah gunung. Saat itu ada dua bangsa, Ya’juj dan Ma’juj yang suka membuat kerusakan di muka bumi. Dengan izin Allah, Dzulqarnain mampu menumpas mereka dengan ilmu dan keahliannya untuk membuat benteng dari besi dan tembaga. (selengkapnya lihat surat Al-Kahfi 83-98).
Pelajaran: Hanya keshalihan yang mampu mengendalikan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi agar tidak melahirkan kerusakan. Tanpa keshalihan, teknologi bisa jadi hanya akan membunuh, membodohkan, mengeksploitasi, dan juga menghinakan. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita meng-‘Islam’-kan keahlian kita?
(sumber: Tarbawi edisi 9 Thn. I)
Menjadi diriku..
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka
Ku apa adanya..
Wajahku memang begini
Kuakui ku bukanlah mereka
Ku apa adanya..
Menjadi diriku dengan segala kekurangan
Sabar dengan ketetapanNya..
Menjadi diriku atas kelebihanku
Syukur dengan karuniaNya…
Terimalah aku seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa tak butuh sempurna..
Tetap ku bangga atas apa yang kupunya
Setiap waktu kunikmati anugrah hidup yang kumiliki..
by Edcoustic
Kamis, 13 Oktober 2011
Cintailah karunia-Nya sebelum terlambat...
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki:
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Note by Arief Risman
Langganan:
Postingan (Atom)









