Rabu, 26 Juni 2013

Memperjuangkan Nurani Melompati Rules

Mentari menyisakan cahaya merah, menembus awan sisa-sisa hujan. Itulah sedikit pemandangan dari celah jendela ruang rapat lantai 2 sore ini. Ruangan terasa cukup panas, bukan saja karena hanya satu buah AC yang dinyalakan tapi lebih tepatnya karena panasnya suasana rapat panitia lelang kali ini. Empat dari lima orang panitia berkumpul untuk memutuskan kesepakatan pemenang lelang yang sudah menyentuh deadlock. Empat kepala dengan empat isi pemikiran berbeda akhirnya mengerucut pada 2 ujung kesepakatan yang berbeda, kalau tidak dibilang bertolak belakang.

Kami sadar semua rules telah dibuat step by step untuk mencapai ultimate goal. sedangkan tujuan utama kita adalah mendapat supplier yang kompeten, efisien dalam budget dan efektif mencapai output serta tepat waktu. Namun apa daya, rules yang telah dibuat memang ada beberapa hal yang bersifat subjektif. Sekuat apa pun usaha untuk memenuhi syarat objektif kadang masih berbenturan dengan subjektivitas. Al hasil perbedaan kesimpulan menjadi jalan masuk kepentingan-kepentingan tertentu atau bahkan atas dasar suatu kepentingan kesimpulan bisa diarahkan bertameng rules. Inilah yang dikenal dengan "conflict of interest".

Konflik ini bukan masalah atasan dan bawahan, bukan antara supplier A dan B, tapi masalah nurani untuk memilih mana yang terbaik. Semua bisa berkilah dengan rules yang membolehkan si A atau B yang menang tapi nuranilah yang kami perjuangkan. Dua keputusan yang berbeda, dan yang kami perjuangkan adalah memenangkan nurani meski kadang beresiko. Ya, kami sepakat untuk menerima resiko karir dan pengadilan jika kami harus mempertanggungjawabkan pilihan nurani ini.

Debat panjang memakan waktu yang lama, adu argumen, retorika dan bantahan terus mengalir bersama turunnya senja memerah. Ujungnya, menyisakan perbedaan yang cukup tajam dan takkan ada habisnya, kecuali setelah kami dengar kumandang adzan.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar