
Kesalahan ini terulang dua kali dan aku sadar.. benar-benar sadar..
Memang mungkin jiwa petualang yang muncul lagi walaupun sebenarnya sudah banyak yang terpangkas. Hampir semua pilihan dan kemungkinan selalu aku ambil. Ya tentu pilihan yang terbaik atau pertama menjadi incaran. Puncaknya adalah jadwal pulang sekolahku bergeser sampai lepas pukul 16.00 WIB, itu Senin-Sabtu, padahal anak SMA pukul 14.00 sudah nyaman di rumah mereka masing-masing. Senin melatih junior-junior Paskibra, Selasa dan Jumat latihan bela diri, Rabu ngumpul anak-anak KIR, Kamis gabung anak-anak Pecinta Alam dan Sabtu ikut Pramuka. Belum latihan tim sepak bola sekolah menjelang ada lomba atau lawan tanding. Semua ini untuk mengantarkanku menjadi siswa yang terbaik, menjadikan "lebih" dan selalu menjadi yang pertama dalam setiap bidang kegiatan. Dan alhamdulillah tercapai..
"Lalu untuk apa dulu Anda menandatangani kontrak ikatan dinas disana?" tanya pewawancara sebuah BUMN, perusahaan besar yang memang aku idamkan selapas kuliah S1. Pertanyaan itu terlau berat untuk sebuah proses wawancara melamar pekerjaan dari instansi yang bonafit. Melamar kerja disana disaat posisiku saat itu adalah pekerja pada instansi pemerintah yang dipandang orang cukup bagus. Tentu hampir semua orang setuju bekerja di BUMN itu akan menjadi pilihan pertama daripada instansi pemerintah.
Em.. Tertegun agak lama untuk memikirkan jawaban pertanyaan itu. Diingat-ingat, dulu masuk kampus ikatan dinas ini juga bukan pilihanku. Selepas SMA, aku sebenarnya sudah diterima kuliah di Fakultas Kedokteran sebuah Universits Negeri melalui jalur beasiswa. Namun, untuk biaya kuliah selanjutnya ortu harus menjual mabil satu-satunya milik keluarga yang sehari-hari dipakai untuk akomodasi bisnis ibuku. Rasanya berat untuk melanjutkan kuliah disini. Singkatnya, aku lepas juga pilihan pertama yang sebenarnya aku impikan sejak lama. Di sinilah titik PERTAMA aku benar-benar merasakan kehilangan yang amat sangat untuk sebuah PILIHAN PERTAMA.
Menjawab pertanyaan pewawancara dengan alasan pengembangan diri ternyata nilainya tidak seberat alasan untuk bertahan menjalankan komitmen awal yang telah dibuat. Ya, memang seharusnya komitmen itu dipegang erat. Walaupun bukan sebuah kesalahan ketika kita menginginkan memutus komitmen dengan resiko, nyatanya tetap saja tidak mampu mengganti tingginya nilai menghargai komitmen. Ditambah serangkaian jawaban yang kurang memuaskan-mungkin- akhirnya aku harus kembali tanpa memperoleh PILIHAN PERTAMA itu. Artinya, kembali pada kenyataan untuk menjalani PILIHAN KEDUA.
Tiba-tiba dalam perjalanan pulang menuju kosan, terpikir beberapa pertanyaan yang cukup perlu waktu menjawabnya. Kali ini aku harus benar-benar menanyakan diriku sendiri.
-apa benar itu PILIHAN PERTAMA bagiku?
-Lalu, apa semua orang menuju atau menjalani hidup dalam PILIHAN PERTAMA?
-Seberapa jauh PILIHAN KEDUA daripada PILIHAN PERTAMA?
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu masih aku pikirkan dan mungkin Anda pikirkan karena kita yakin pilihan dan memilih adalah bagian dari setiap langkah hidup kita.
Ada saatnya nanti kutuliskan jawaban itu disini atau Anda telah menjawabnya sendiri.