Senin, 07 Januari 2013

10 Tahun Lalu, Tersesat Di Tempat Ini




Jawa Tengah bagian selatan memiliki kondisi geografi yang unik, mengingat batas alam disana adalah sebuah Samudera luas hingga ke ZEE antara Indonesia, laut Internasional dan Australia. Mulai dari Kabupaten CIlacap-Kebumen-Purworejo hingga DIY. Begitu banyak keunikan alam ternyata mampu menjadi objek wisata yang sangat memuaskan mata dan jiwa. Puluhan objek wisata berjajar dari ujung Barat sampai Timur. Salah satunya Gua Petruk. Tulisan ini dibuat setelah kali ketiga saya berkunjung ke tempat ini. (Gua-EYD-KBBI)


Gua Petruk, terletak di desa Candi Renggo, kecamatan Ayah,  Kebumen. Gua Petruk adalah gua karst (kapur) yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu dan baru ditemukan pada tahun 1970an (info dari guide). Gua ini masih tergolong aktif karena dimensi stalagtit dan stalagmit masih terus bertambah. Gua ini memiliki panjang 350m dan berlantai tiga. What?? 3 lantai? Ya, struktur berlapis dan berlantai akibat jalan untuk menembus sampai dengan ujung gua bukan melalui satu lantai, tapi kadang harus masuk naik ke atas, ke dalam lantai tanah atau bahkan lubang serupa sumur.

Di mulut gua terdapat ruang yang cukup luas dan sungai kecil yang mengalir dari dalam gua. Air berasal dari perbukitan ujung gua yang mengalir sepanjang lorong gua atau dengan kata lain jalan air itu adalah jalan menuju sisi ujung luar gua. Akibat dari air yang terus mengalir, terbentuklah aliran sungai dengan batu pijakan lantai kiri kanan menjadi berlumpur licin. Ketika hujan turun, air mngalir cukup deras dan mencapai pinggang orang dewasa bahkan harus menyelam untuk melalui lorong tertentu. Tidak begitu jauh dari mulut gua, intensitas cahaya sudah menurun alias mulai gelap. Posisi ini cukup baik bagi ribuan kelelawar bersemayam sepanjang hari. Alhasil, ruang tersebut menjadi ujian yang berat ketika ruangan menjadi gelap, berlumpur, tsedikit oksigen dengan bau amoniak menyengat dari kotoran kelelawar. Tak sedikit yang tidak mampu bertahan, pusing, mual bahkan muntah. hehehe..tapi alhamdulillah tim kita kuat..


Sedikit cerita ke masa lalu, sekitar bulan September tahun 2002. Saat itu adalah kunjungan kedua bagi saya. Kali kedua tersebut bukanlah datang dengan tujuan berwisata tetapi dalam rangka "Diklat Dasar Jawapala" bagi junior-junior calon anggota pecinta alam SMA kami dan saya salah satu senior yang bertanggung jawab atas sesi "caving" kali ini. Ada banyak senior, sekitar 15 orang saat itu tapi penanggung jawab sesi caving hanya dua orang, saya dan Tuslim, sisanya mengawal setiap grup junior. Karena Tuslim lebih kenal medan, dia bertugas sebagai leader dan saya "penyapu" alias paling belakang untuk mencegah ada junior yang tertinggal. Ada cerita seru dalam acara caving waktu itu. Namanya juga caving, kami telusuri setiap jengkal lorong sampai sisi sebalik ujung gua mulai dalam kondisi cuaca hujan. Kondisi lorong sangat licin, air yang terus mengalir, gelap dan oksigen yang terbatas. Satu demi satu keindahan isi gua terkuak dan benar-benar mengilangkan suasana mencekam. Tak jarang kami harus membungkuk, jalan jongkok, merayap bahkan berkubang melawan derasnya arus. Tak sedikit yang cedera entah itu terkantuk dinding batu, terjatuh, luka tergores batu, bahkan yang paling menyeramkan adalah tersesat. Setelah menempuh hampir 2 jam perjuangan akhirnya kami sampai dengan selamat di sisi ujung gua alias tembus.. hurraaaaaayyyyyy.. Lucunya adalah ketika melihat rupa penampakan rekan-rekan dan junior tak ada satu pun yang lepas dari lumpur yang membasahi setiap senti badan mereka. Karena cuaca terus hujan dan debit air terus meningkat maka kami putuskan untuk segera kembali.. Ya kembali berkubang..hehehe...

Di tengah perjalan pulang, dalam kepayahan dan kondisi rute yang mulai berat semakin menguji ketahanan kami. Bagi saya dan Tuslim ini adalah beban berat bagaimana menjaga motivasi junior-junior sekaligus memberi "sedikit" pelajaran dari alam. Konsentrasi kami pun mulai menurun. Terbukti saat mencoba menembus lantai demi jalan pintas terjadi kesalahan diantara kami. Ada rute asing yang tidak seharusnya kami lewati alias kami........TERSESAT... Kami saling bertemu dan melingkar di tempat yang sama atau dengan kata lain kami hanya memutar, serasa terjebak labirin. Derasnya aliran air semakin membuat panik kami semua. Inilah ujian bagi kami berdua sebagai penanggung jawab. Kami minta semua diam dan tenang di tempat. Saya dan Tuslim mencoba kembali mengulangi rute pindah lantai sebelumnya. Dengan penerangan sisa, kadang jalan buntu yang kami temukan. Benar-benar buntu dan sadarlah kami saat itu tidak membawa guide lokal. pikiran buruk sudah bergemuruh memenuhi isi kepala. Ya Alloh.. beri kami petunjuk, doa-doa pendek kami panjatkan. Selang lima belas menit Tuslim bisa mengingat kembali kesalah kita mengambil rute. Ternyata tak semua jalan pintas itu memudahkan... kadang justru menyusahkan.


 Dengan terus memanjatkan doa disertai keyakinan yang kuat untuk selamat.. akhirnya kami mampu menempuh perjalanan kembali ke mulut gua. Alhamdulillah... Benar-benar luar biasa pengalaman saat itu yang tak mampu tergambar dari tulisan ini. Memang caving adalah salah satu sesi berat dalam materi diksar. Ya cerita itu menjadi kenangan manis dari Gua Petruk karena tak semua orang mampu menembus dan kembali menyusuri rute-rute keindahan kanan-kiri dinding gua.

Ini salah satu bentuk karst yang unik. Tebak coba ini mirip apa?
hmmm... ngeri ya.. tapi alam ini memang penuh keajaiban tak terkecuali satu titik di dalam sebuah lorong gua yang gelap sebagai bukti memang Maha Kuasa Pencipta alam raya ini..
ah.. Sayang tak banyak tempat indah yang dapat kami rekam dengan kamera karena intensitas cahaya tak mampu menampilkan bayangan nyata. Namun, keindahan itu masih terekam dalam memori tubuh ini untuk selamanya. 




Narsis setelah sedikit "napak tilas".. Gilang, saya dan Ade. Lho, Noven mana.. sorry yo Ven.. malah moto..








Selamat tinggal Gua Petruk.. terima kasih telah menjadi "Rendezvous" memori masa lalu dan jiwa ini.. (starter motor dan cuss kita.... c u next page hihii..)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar