Rabu, 25 Januari 2012

http://hidayatullah.com/read/20710/17/01/2012/avasinolog-dan-pendekar-kungfu-islam-itu-telah-pergi.html

Kamis, 12 Januari 2012

Dalam Mihrab Syubhat atau Ketika Syubhat Berta'awudz

Ingatanku tiba-tiba melayang ke masa kuliah 7 tahun lalu. Ahad pagi selepas shalat subuh di masjid adalah waktu yang paling menegangkan. What???? Sebagai mahasiswa seharusnya ahad pagi adalah saat-saat indah untuk melanjutkan mimpi memeluk guling atau olah raga. Berbeda dengan teman kamar sebelah, aku harus berkutat dengan kitab kecil berbahasa arab sambil memejamkan mata sesekali.. hehehe kalo ga sadar lama-lama ketiduran juga.. zzzzzz kalo ini kapan aja n dimana saja.. namanya juga mahasiswa..

Masih jelas dalam ingatan ketika dihukum berdiri di dalam masjid karena tidak hafal satu atau beberapa hadits. Yah, pedoman hidup yang mulia. Hadits yang lumayan panjang memang saat itu belum mampu aku hafal dengan baik. Kitab hadits yang kami pakai adalah muyassar dari Arba'in Imam An Nawawy rahimahullah. Meski tidak ingat dengan baik tapi dengan izin Alloh 'azza wajalla nilai hadits itu masih tertanam dan semoga tak lepas dari dalam dadaku. Amin ya Rabb. Hadits itu adalah hadits awal ke-enam (kalau ga salah nanti dicek lagi kitabnya) mengenai halal-haram. kurang lebih bunyinya seperti ini... (tapi keknya ga usah dech.. cukup artinya aja ya biar ringkas).

Jumat, 30 Desember 2011

Resolusi vs Koservatisme

kalender mulai terlihat usang.. tapi bukan karena wujudnya yang hampir satu tahun menempel di dinding kamar ini. dia jadi usang karen mata ini memberi kabar ke otak, "hey, tahun ini akan berakhir"

Kamis, 29 Desember 2011

Desember: Bukan Penghujung Harapan

Hampir lupa untuk menulis lagi di blog ini.. Ya, ini bulan Desember..
Bulan penguhujung tahun masehi sekaligus bulan evaluasi seluruh pencapaian kerja tahun ini..
itu di kantorrrr bro.. kali ini lagi males ngomongin kantor dah..

Sebagai cerminan, memang target tahun ini ada progres yang bagus untuk menapaki tahun depan meskipun sampai hari terakhir tahun 2011 ternyata masih banyak target yang meleset atau bahkan tidak tercapai.
Sadar benar bahwa rasa syukur harus menjadi awal kata atas pencapaian tahun ini, terutama masalah karir dan pendidikan. Sebaliknya, menghadapi kenyataan banyaknya kegagalan atau target yang belum tercapai hal pertama adalah..... ya, apa? tersenyum?  menyesal? atau justru bersyukur?

Ssipp jawaban itu benar? 
Tersenyum? harus itu.. kenapa? ya itu lah wajahku sendiri.. (siapa lagi yang mau senyum kalau bukan aku sendiri hihii....)

Menyesal? ga perlu bro.. u have done the best... except one point.. what is it? it's a secret..
menyesal kalau kamu masih belum  mau jujur bahwa kamu gagal dalam beberapa hal.
Masalah apa? bisnismu yang hancur itu? berapa sih 40 juta? heii sadar... itu uang siapa? uangmu?  ckckckkck.. jelas-jelas itu uang milik Alloh 'azza wajalla.. kamu siapa.. hasil tabunganmu satu tahun gaji? ahh.. kamu satu tahun masih bisa dapat nafas gratis itu ada ga 40 juta? berapa..? yang jelas lebih dari 40 juta kan.. jangan-jangan itu yang terbaik atau yang paling mudah untuk kita daripada cara Alloh yang lain..  jadi musibah itu pun ga boleh disesali bahkan disyukuri..

What? bersyukur?
ingatkah nasihat Ibnu Batthul tentang apa-apa yang terjadi untuk kita memang telah tersurat dalam lauhful mahfudz. Sekalipun itu musibah yang menurut manusia adalah perkara menyusahkan dan memberatkan, yakinlah dan ketahuilah bahwa musibah itu adalah terbaik disisi Alloh 'azza wajalla bagi manusia.

Kegagalan tahun ini dua hal yang pokok: bisnis dan nikah..
Masalah bisnis, ingat baik-baik hal-hal ini:
- jangan pernah lagi percaya pada orang lain kecuali dia yang pernah berkorban untukmu..
- jangan menunda ikut training graphology for business..
- jangan benturkan masa depanmu dengan target jangka pendek meski menggiurkan..

Di sisi lain, tahun ini aku dapatkan kembali sahabat yang pernah hilang. Sosok sahabat yang muncul untuk kedua kalinya pada salah seorang sahabatku. Ya, kami adalah duo pesaing sejak di bangku kuliah, mulai dari bangun pagi, menghafal qur'an, mengerjakan tugas, olahraga sampai IPK. Tak jarang kami mengalami "sleek" karena masalah persaingan ini. Namun, kalau dikenang ternyata lebih banyak kekompakan diantara kami, seperti tradisi bersarung, mudik, kebut-kebutan motor, sampai masalah tipe wanita idaman.. hihihi lucu kalau diingatt... Sosok sahabat itu muncul lagi ketika kami sama-sama jatuh, tapi dia dapat ujian lebih karena sekarang dia menanggung tambahan dua jiwa. Ketika ujian ini datang, masih ingat saat suaranya berubah menceritakan beberapa bisnisnya yang hancur, utang bertumpuk dan ancaman-ancaman yang mungkin terjadi atas dia. Saat-saat itulah kami temukan perasaan senasib dan semangat untuk bangkit kembali. Mulai dari bermitra dalam bisnis sampai bagi-bagi tips pernikahan. Bro, semoga persahabatan ini menjadi jalan membawa kita ke syurga kelak. Amin.. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ujung tahun bukan lah penghujung harapan. Harapan itu masih ada, masih terbuka lebar.. kamu tidak sendiri, kita akan bersama menghadapi setiap tantangan tahun depan..

Masalah kegagalan kedua mau aku tulis apa ya.. mengertilah, ini diluar kendaliku.. Mungkin joke yang cocok untukku kali ini adalah "aku memang belum bisa memberi ibuku apa-apa, apalagi seorang menantu"
Hahaha itu joke kalau temen-temen mulai meledek..
Biarlah itu menjadi pelajaran buatku. Tahun ini memang belum menemukan siapa jodohku tetapi aku yakin dan husnudzon Alloh telah menyiapkan yang terbaik untukku. Tugasku hanya memperbaiki diri dan memperbaiki diri. itu saja.. eh, jangan lupa nabung untuk keperluan menuju hari H dan setelah berumah tangga kelak..

Harapan tidak berakhir bersama berakhirnya tahun ini.. Masih ada harapan di tahun depan. Sukses atau tidaknya tahun depan tergantung pada ikhtiarku sendiri.. Ingat, jangan menyesali kegagalan yang tekah terjadi, jangan berhenti belajar, jangan berhenti memperbaiki diri dan tetaplah husnudzon kepada ketentuanNya kelak.. Semoga hidupku ada perbaikan yang signifikan di tahun depan.. Amin..


Senin, 28 November 2011

Kisah Nyata: "Kalimat terakhir Hidup Seorang Hamba"


Cerita ini mengaingatkanku pada masa-masa pergeseran dari masa remaja menjadi dewasa. Pertama kali kudengar lewat sebuah radio islam, tepatnya  di awal tahun ketiga kuliah di kota perantauan atau 4 tahun yang lalu, bersamaan dengan momentum  semangant keinsyafan dan keinginan perubahan diri untuk menjadi lebih baik. Cerita ini masih jelas kuingat karena benar-benar menyulut semangatku untuk hidup menjadi manusia yang bermanfaat, baik menjadi seorang anak, seorang warga negara, mahasiswa dan orang tua kelak.


Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menusuk tulang.


Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.  Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.


Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya… Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.


Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.


Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.


Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah  wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.

Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya. Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.


Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.

Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas nama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…
Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Alloh 'azza wajalla menagampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkan untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta  menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin  sebagai taman-taman syurga.. Amin.

Azzamul Qadim hal 36-42 
Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]

Rabu, 16 November 2011

Langit, Laut, Savana dan Jalanan Hati ini...

Berdiam diri di bawah naungan langit mendung ini.. Hujan akan menjadi sahabat bagiku, ya cukup membasahi badan ini, meresap hingga ke hati.. setidaknya menyegarkan jiwa meski sesaat..
Sendiri, menyepi dalam senyapnya udara dingin bagiku ini bukan penjara.. hanya saja, tak mampu lagi jika tuk menatap langit.. dia jauh di sana, sulit kugapai.. sementara di sini, jiwa telah terpaku bumi..

Kemarin, aku berlari ke pantai.. kurasa ujungnya dekat dengan langit di sisi horizon..
Puaskah aku dengan hanya menatapnya saja? Ah..., tentu... tidak. 
ku coba kayuhkan perahu ke sana, tapi apa? batas horizon ternyata ilusi saja..
masih tak kuasa jika apa yang kulihat ternyata tak bisa kudapat..
Jiwaku makin tak percaya, apa dia akan tetap ada..

 
Masih kuingat hari itu, hari di savana.. indahnya ilalang mampu menghancurkan sedikit penantianku..
Dia hadir di setiap indahnya daun-daun ilalang.. ku kejar satu-satu ilalang dia bernaung..
Memang kugapai tapi segera mataku berlari mencari ilalang kedua tempat dia berlindung..
Tanpa berfikir segera kukejar dia.. kini ku yakin dia kutangkap.. tapi lagi-lagi dia berlari.. ya, pindah ke ilalang yang lebih lebat..
Segera lagi kugapai.. tapi ya, dengan lebih cepat dia telah berpindah.. hingga senja turun, tanpa kusadari kakiku telah siap menginjak hutan.. ah.. aku terjebak..



Kerikil-kerikil serta batu yang kupijak diperjalanan pulang, menyadarkanku akan pencarianku selama ini.
Jalan-jalan tanah ini sudah usang dan seharusnya kini diaspal. Sama seperti hatiku, sudah perlu penguat..
Dia yang kuharapkan di sini, berjalan menapaki kerikil-kerikil kehidupan tak jua kutemui.. agar bisa saling berpegangan saat jalan menjadi lumpur, atau terkikis berbatu hingga genangan banjir yang menghapus arahnya..

 

Dalam heningnya malam yang menyayat, kini aku tertunduk dengan perasaan sakit. Hati yang telah terkikis... jiwa yang telah padam. Akankah kutemukan nyala apiku lagi? aku tak mengerti dengan apa yang kulakukan.
Beginilah..., apa yang harus kujalani. Berjalan... dan terus berjalan, seorang diri, melewati setiap malam senyap tanpa arti.
Tapi kuakui, ketika kupejamkan mata ini, dia... selalu menggenggam tanganku. Dia... bersamaku.
Saat aku melangkah, dia berjalan disisiku. Dia menghangatkanku dari rasa senyap yang dingin. Dia... mengembalikan setiap kekosongan dalam jiwa. Sebuah pelengkap fitrah.. Ah.. aku masih bermimpi..


Kuyakini di setiap malam... tak selamanya akan sepi. Sekalipun sendiri..., aku sadar... di ujung sana... ada seseorang yang akan mengulurkan tangannya padaku.. bersandar di bahuku, yang kubelai rambutnya, dan menemani sisa usiaku.. Hanya kini kusadar, ku harus sabar menunggu dia di ujung jalan ini, hingga batas waktu nanti..

"Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah  cintaku  padamu". – Imam Nawawi

                                                      Catatan 30menit disela waktu penyusunan kontrak..

Minggu, 23 Oktober 2011

Jadilah cinta sejati..

 
Malam menjelang istirahat menjadi waktu yang indah untuk merenung. Apalagi kalau bukan masalah orang-orang dan cinta mereka. Suatu malam sebuah pertanyaan muncul satu tema kecil di pikiranku. Ya, tentang cinta sejati, suatu keniscayaan di alam modern ini.


Adakah cinta sejati? Bagaimana kau tahu bahwa orang yang kau cintai sekarang adalah cinta sejatimu? Lalu orang yang kukasihi berkata….. “Itu pertanyaan yang berat!”

Lalu ia mulai menceritakan suatu kisah dari seorang bijak yang pernah ia dengar:

Alkisah datanglah seorang anak menghadap ayahnya dan bertanya, “Ayah bagaimana aku bisa mencari dan menemukan cinta sejatiku? Lalu setelah aku menemukan satu yang aku sukai, bagaimana aku tahu kalau ia adalah cinta sejatiku?” 
Ayah yang bijak tersenyum menatap anaknya. Dia menuntun anaknya ke suatu tempat; di tepi hutan yang lebat. Sang Ayah lalu menunjuk ke arah hutan itu.
“Anakku, masuklah ke dalam hutan di sebelah kananmu, pilihlah satu pohon yang kamu sukai. Setelah itu berjalanlah engkau hingga sampai ke tepi hutan yang lain. Ingatlah, setelah kamu memilih satu pohon, kamu tidak dapat memilih pohon yang lain, dan kamu harus terus berjalan maju tanpa boleh kembali berbalik kebelakang melalui jalan yang kamu sudah lalui.” 


Sang anak mengangguk mengerti dan memulai perjalanannya. Di awal perjalanannya ia melihat beberapa pohon yang indah yang ia sukai bahkan ia menemukan pohon yang mendekati sempurna di tengah perjalanan, tetapi ia belum memutuskan untuk memilih karena ia masih ingin tahu apa yang akan ia temukan di depan dan berharap untuk menemukan pohon yang lebih baik. 


Tapi hingga di akhir perjalanan ketika ia hampir tiba di tepi hutan, ia belum memilih dan pohon yang tersisa di hadapannya tak lagi indah, bahkan beberapa terlihat buruk. Akhirnya ia memutuskan untuk memilih satu pohon yang ia anggap terbaik dari antara pohon-pohon yang buruk. Ia merasa tidak puas namun ia harus memilih. Ketika ia sampai di tepi hutan dan bertemu ayahnya dan menceritakan apa yang sudah ia alami. Ayah yang bijak hanya terenyum dan menyuruhnya masuk ke sisi hutan yang lain dan memberi anaknya kesempatan kedua untuk memilih dengan peraturan yang sama.

Dengan langkah yang cepat sang anak kembali masuk kedalam hutan dan berdasarkan pengalamannya, ia dengan cepat memilih pohon yang indah dan ia sukai di awal perjalanannya. Namun, ia kembali kecewa ketika memasuki hutan lebih dalam, ia menemukan beberapa pohon yang lebih indah, lebih baik dan lebih sempurna. Namun sayangnya, ia tidak bisa memilih lagi karena ia sudah terlanjur memilih di awal perjalannya tadi. Ia kembali menceritakan pengalamannya pada ayahnya yang sudah menunggunya di tepi hutan.

Lalu sang Ayah berkata, “Anakku…. Hutan ini adalah lingkup hidupmu. Perjalananmu di hutan bagaikan perjalanan hidupmu. Sepanjang perjalanan hidupmu, kamu akan menemukan banyak wanita (pria) disekitarmu. Kamu hanya bisa memilih satu dalam hidupmu dan tidak akan pernah tahu siapakah cinta sejatimu. Mungkin kau akan melewatkan beberapa yang indah untuk menemukan yang lebih baik sampai akhirnya di satu waktu kau kecewa karena tidak ada lagi gadis (pria) terindah yang bisa kau pilih menjadi pendamping hidupmu. Sehingga kamupun terpaksa harus memilih yang terbaik dari antara yang kurang kamu sukai. Atau bisa saja kamu sudah memilih yang kamu anggap terindah di satu waktu di tengah perjalanan hidupmu. Kau akan bahagia di satu waktu dengannya. 


Namun di masa berikutnya, kau akan kembali kecewa karena kau melihat dan bertemu dengan orang-orang yang lebih baik. Dan kau akan menyesal karena tidak sabar menunggu lebih lama untuk mendapatkan yang lebih baik Anakku, cinta sejati bukanlah berarti yang terbaik menurutmu, cinta sejati adalah pilihan terbaikmu di suatu masa hidupmu. Bukanlah masalah kalau ia tidak sebaik orang di masa lalumu atau di masa depanmu. Pilihan, apabila sudah ditetapkan, adalah hal yang harus kau pertahankan sepanjang sisa hidupmu. Terbaik atau tidak, indah atau buruk, bergantung pada pandanganmu dan caramu menilai. Maka itu, jadikanlah pilihanmu menjadi yang terbaik sepanjang hidupmu.

Janganlah terus mencari cinta sejati, tetapi jadilah cinta sejati bagi pasanganmu. Niscaya kau akan mendapatkan hidup yang lebih indah.

Anak itu meninggalkan ayahnya sambil terus berfikir tentang kata-kata ayahnya. Ia memutuskan untuk menemukan pilihannya yang akan menjadi cinta sejatinya.

Teman….sudahkah kau menemukan cinta sejatimu? Dan maukah kau memutuskan untuk menjadi cinta sejati bagi orang yang sudah kau pilih?