Rabu, 16 November 2011

Langit, Laut, Savana dan Jalanan Hati ini...

Berdiam diri di bawah naungan langit mendung ini.. Hujan akan menjadi sahabat bagiku, ya cukup membasahi badan ini, meresap hingga ke hati.. setidaknya menyegarkan jiwa meski sesaat..
Sendiri, menyepi dalam senyapnya udara dingin bagiku ini bukan penjara.. hanya saja, tak mampu lagi jika tuk menatap langit.. dia jauh di sana, sulit kugapai.. sementara di sini, jiwa telah terpaku bumi..

Kemarin, aku berlari ke pantai.. kurasa ujungnya dekat dengan langit di sisi horizon..
Puaskah aku dengan hanya menatapnya saja? Ah..., tentu... tidak. 
ku coba kayuhkan perahu ke sana, tapi apa? batas horizon ternyata ilusi saja..
masih tak kuasa jika apa yang kulihat ternyata tak bisa kudapat..
Jiwaku makin tak percaya, apa dia akan tetap ada..

 
Masih kuingat hari itu, hari di savana.. indahnya ilalang mampu menghancurkan sedikit penantianku..
Dia hadir di setiap indahnya daun-daun ilalang.. ku kejar satu-satu ilalang dia bernaung..
Memang kugapai tapi segera mataku berlari mencari ilalang kedua tempat dia berlindung..
Tanpa berfikir segera kukejar dia.. kini ku yakin dia kutangkap.. tapi lagi-lagi dia berlari.. ya, pindah ke ilalang yang lebih lebat..
Segera lagi kugapai.. tapi ya, dengan lebih cepat dia telah berpindah.. hingga senja turun, tanpa kusadari kakiku telah siap menginjak hutan.. ah.. aku terjebak..



Kerikil-kerikil serta batu yang kupijak diperjalanan pulang, menyadarkanku akan pencarianku selama ini.
Jalan-jalan tanah ini sudah usang dan seharusnya kini diaspal. Sama seperti hatiku, sudah perlu penguat..
Dia yang kuharapkan di sini, berjalan menapaki kerikil-kerikil kehidupan tak jua kutemui.. agar bisa saling berpegangan saat jalan menjadi lumpur, atau terkikis berbatu hingga genangan banjir yang menghapus arahnya..

 

Dalam heningnya malam yang menyayat, kini aku tertunduk dengan perasaan sakit. Hati yang telah terkikis... jiwa yang telah padam. Akankah kutemukan nyala apiku lagi? aku tak mengerti dengan apa yang kulakukan.
Beginilah..., apa yang harus kujalani. Berjalan... dan terus berjalan, seorang diri, melewati setiap malam senyap tanpa arti.
Tapi kuakui, ketika kupejamkan mata ini, dia... selalu menggenggam tanganku. Dia... bersamaku.
Saat aku melangkah, dia berjalan disisiku. Dia menghangatkanku dari rasa senyap yang dingin. Dia... mengembalikan setiap kekosongan dalam jiwa. Sebuah pelengkap fitrah.. Ah.. aku masih bermimpi..


Kuyakini di setiap malam... tak selamanya akan sepi. Sekalipun sendiri..., aku sadar... di ujung sana... ada seseorang yang akan mengulurkan tangannya padaku.. bersandar di bahuku, yang kubelai rambutnya, dan menemani sisa usiaku.. Hanya kini kusadar, ku harus sabar menunggu dia di ujung jalan ini, hingga batas waktu nanti..

"Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah  cintaku  padamu". – Imam Nawawi

                                                      Catatan 30menit disela waktu penyusunan kontrak..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar