Jumat, 08 Maret 2013

Belajar Berfikir Positif (lagi)..

Setiap manusia telah diciptakan dengan sempurna, akal dan hati sebagai instrumen keseimbangan, bekal menghadapi kehidupan. Kedua harus dipakai sesuai tempatnya dan harus bersinergi. Dominan pada salah satunya akal menimbulkan ketidakseimbangan dalam menentukan langkah-langkah hidup kepada diri sendiri atau reaksi terhadap lingkungan. Lalu bagaimana cara kita menilai kerja seimbang akal-hati kita? Ada dari reaksi balik lingkungan kepada kita. Bersyukurlah jika lingkungan telah menerima kita dengan baik berarti sebagian besar sikap kita telah dibuat dari sinergi akal-hati yang tepat. 

Bagaimana yang merasa belum mendapat reaksi balik dari lingkungan dengan memadai (baik dari persepsi kita). Mungkin banyak faktor yang mempengaruhi, external maupun internal. Hanya faktor internal, yang kita bahas kali ini. 

Akal
Dari sisi biologi, 




Kamis, 17 Januari 2013

Juru Parkir

Cilacap,   Januari 2013

Siang itu langit kota Cilacap cukup terang. Aku menikamti perjalanan dari rumah menuju rumah kos Ade di sekitar sekolahnya. Sekitar tiga puluh menit untuk 40km jarak kutempuh. 

Buku (blog) baru

Berawal dari banyaknya kategori tulisan yang ada di blog ini dirasa kurang fokus memegang satu tema tulisan. Dari tips yang aku temui, para blogger disarankan untuk fokus menulis seputar kategori yang dipilih sesuai tema blog, jangan campur aduk intinya. hehehe. merasa tulisanku campur aduk, akhirnya kuputusakan membagi tulisanku dalam 2 (dua) blog sesuai kriterianya.

1. tinta terakhir pada http://tinta-terakhir.blogspot.com, untuk menulis seputar nasehat dan pelajaran hidup.
2. tulis saja pada http://tulisan-senja.blogspot.com, untuk menulis curhatan pribadi, kerjaan dan traveling.

Meski hanya aku dan pembaca sepelintasan yang tak tak tentu ada, hehehe... mulai sekarang aku ada buat blog baru, ya hanya belajar menulis dan edit html.. piss  




Kamis, 10 Januari 2013

Menganti, Tanah Lot Kw1

Sama seperti tulisan sebelumnya, tempat ini juga sengaja kembali kukunjungi sebagai pelepas rindu masa-masa SMA dengan jiwa explorer yang... (bukan Dora ya).. Sebelum berceritera baiknya pamer keindahannya dulu ya.. check this out pren.. 

Gambar ini ada view pertama setelah melewati sekian bukit Karang Dhuwur sampai ke bukit terakhir sebelum pantai Menganti. Perjalanan cukup sulit karena hanya menggunakan sepeda motor bebek  berdua untuk medan yang cukup ekstrem. Pantai Menganti adalah salah pantai diantara belasan pantai indah yang berjajar dari dari Barat ke Timur setelah pantai Nusakambangan. Kalau diurut pertama adalah Teluk Penyu, Karangkandri, Bunton, Selok, Srandil, Karanganyar, Karang Pakis, Widarapayung, Jetis, Logending dan Menganti.  


Penampakan setelah setengah jam "riding the hills" lumayan capek tapi terbayar dengan indahnya pemandangan disana. Backgroun adalah dinding perbukitan kapur yang curam membatasi laut dan darat. TTerdapat gua-gua tempat walet tinggal dan berdiam. Jalanan kesana sangant ekstrem dan sebenarnya bagus. Hanya saja belum ada kesempatan dan kawan yang sanggup menghadapi rutenya. Jalan yang tersedia hanya jalan setapak tanah dengan bukit yang curam dan dapat ditempuh sekitar 1 jam dari bukit pantai ini.






















Senin, 07 Januari 2013

10 Tahun Lalu, Tersesat Di Tempat Ini




Jawa Tengah bagian selatan memiliki kondisi geografi yang unik, mengingat batas alam disana adalah sebuah Samudera luas hingga ke ZEE antara Indonesia, laut Internasional dan Australia. Mulai dari Kabupaten CIlacap-Kebumen-Purworejo hingga DIY. Begitu banyak keunikan alam ternyata mampu menjadi objek wisata yang sangat memuaskan mata dan jiwa. Puluhan objek wisata berjajar dari ujung Barat sampai Timur. Salah satunya Gua Petruk. Tulisan ini dibuat setelah kali ketiga saya berkunjung ke tempat ini. (Gua-EYD-KBBI)


Gua Petruk, terletak di desa Candi Renggo, kecamatan Ayah,  Kebumen. Gua Petruk adalah gua karst (kapur) yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu dan baru ditemukan pada tahun 1970an (info dari guide). Gua ini masih tergolong aktif karena dimensi stalagtit dan stalagmit masih terus bertambah. Gua ini memiliki panjang 350m dan berlantai tiga. What?? 3 lantai? Ya, struktur berlapis dan berlantai akibat jalan untuk menembus sampai dengan ujung gua bukan melalui satu lantai, tapi kadang harus masuk naik ke atas, ke dalam lantai tanah atau bahkan lubang serupa sumur.

Di mulut gua terdapat ruang yang cukup luas dan sungai kecil yang mengalir dari dalam gua. Air berasal dari perbukitan ujung gua yang mengalir sepanjang lorong gua atau dengan kata lain jalan air itu adalah jalan menuju sisi ujung luar gua. Akibat dari air yang terus mengalir, terbentuklah aliran sungai dengan batu pijakan lantai kiri kanan menjadi berlumpur licin. Ketika hujan turun, air mngalir cukup deras dan mencapai pinggang orang dewasa bahkan harus menyelam untuk melalui lorong tertentu. Tidak begitu jauh dari mulut gua, intensitas cahaya sudah menurun alias mulai gelap. Posisi ini cukup baik bagi ribuan kelelawar bersemayam sepanjang hari. Alhasil, ruang tersebut menjadi ujian yang berat ketika ruangan menjadi gelap, berlumpur, tsedikit oksigen dengan bau amoniak menyengat dari kotoran kelelawar. Tak sedikit yang tidak mampu bertahan, pusing, mual bahkan muntah. hehehe..tapi alhamdulillah tim kita kuat..


Sedikit cerita ke masa lalu, sekitar bulan September tahun 2002. Saat itu adalah kunjungan kedua bagi saya. Kali kedua tersebut bukanlah datang dengan tujuan berwisata tetapi dalam rangka "Diklat Dasar Jawapala" bagi junior-junior calon anggota pecinta alam SMA kami dan saya salah satu senior yang bertanggung jawab atas sesi "caving" kali ini. Ada banyak senior, sekitar 15 orang saat itu tapi penanggung jawab sesi caving hanya dua orang, saya dan Tuslim, sisanya mengawal setiap grup junior. Karena Tuslim lebih kenal medan, dia bertugas sebagai leader dan saya "penyapu" alias paling belakang untuk mencegah ada junior yang tertinggal. Ada cerita seru dalam acara caving waktu itu. Namanya juga caving, kami telusuri setiap jengkal lorong sampai sisi sebalik ujung gua mulai dalam kondisi cuaca hujan. Kondisi lorong sangat licin, air yang terus mengalir, gelap dan oksigen yang terbatas. Satu demi satu keindahan isi gua terkuak dan benar-benar mengilangkan suasana mencekam. Tak jarang kami harus membungkuk, jalan jongkok, merayap bahkan berkubang melawan derasnya arus. Tak sedikit yang cedera entah itu terkantuk dinding batu, terjatuh, luka tergores batu, bahkan yang paling menyeramkan adalah tersesat. Setelah menempuh hampir 2 jam perjuangan akhirnya kami sampai dengan selamat di sisi ujung gua alias tembus.. hurraaaaaayyyyyy.. Lucunya adalah ketika melihat rupa penampakan rekan-rekan dan junior tak ada satu pun yang lepas dari lumpur yang membasahi setiap senti badan mereka. Karena cuaca terus hujan dan debit air terus meningkat maka kami putuskan untuk segera kembali.. Ya kembali berkubang..hehehe...

Di tengah perjalan pulang, dalam kepayahan dan kondisi rute yang mulai berat semakin menguji ketahanan kami. Bagi saya dan Tuslim ini adalah beban berat bagaimana menjaga motivasi junior-junior sekaligus memberi "sedikit" pelajaran dari alam. Konsentrasi kami pun mulai menurun. Terbukti saat mencoba menembus lantai demi jalan pintas terjadi kesalahan diantara kami. Ada rute asing yang tidak seharusnya kami lewati alias kami........TERSESAT... Kami saling bertemu dan melingkar di tempat yang sama atau dengan kata lain kami hanya memutar, serasa terjebak labirin. Derasnya aliran air semakin membuat panik kami semua. Inilah ujian bagi kami berdua sebagai penanggung jawab. Kami minta semua diam dan tenang di tempat. Saya dan Tuslim mencoba kembali mengulangi rute pindah lantai sebelumnya. Dengan penerangan sisa, kadang jalan buntu yang kami temukan. Benar-benar buntu dan sadarlah kami saat itu tidak membawa guide lokal. pikiran buruk sudah bergemuruh memenuhi isi kepala. Ya Alloh.. beri kami petunjuk, doa-doa pendek kami panjatkan. Selang lima belas menit Tuslim bisa mengingat kembali kesalah kita mengambil rute. Ternyata tak semua jalan pintas itu memudahkan... kadang justru menyusahkan.


 Dengan terus memanjatkan doa disertai keyakinan yang kuat untuk selamat.. akhirnya kami mampu menempuh perjalanan kembali ke mulut gua. Alhamdulillah... Benar-benar luar biasa pengalaman saat itu yang tak mampu tergambar dari tulisan ini. Memang caving adalah salah satu sesi berat dalam materi diksar. Ya cerita itu menjadi kenangan manis dari Gua Petruk karena tak semua orang mampu menembus dan kembali menyusuri rute-rute keindahan kanan-kiri dinding gua.

Ini salah satu bentuk karst yang unik. Tebak coba ini mirip apa?
hmmm... ngeri ya.. tapi alam ini memang penuh keajaiban tak terkecuali satu titik di dalam sebuah lorong gua yang gelap sebagai bukti memang Maha Kuasa Pencipta alam raya ini..
ah.. Sayang tak banyak tempat indah yang dapat kami rekam dengan kamera karena intensitas cahaya tak mampu menampilkan bayangan nyata. Namun, keindahan itu masih terekam dalam memori tubuh ini untuk selamanya. 




Narsis setelah sedikit "napak tilas".. Gilang, saya dan Ade. Lho, Noven mana.. sorry yo Ven.. malah moto..








Selamat tinggal Gua Petruk.. terima kasih telah menjadi "Rendezvous" memori masa lalu dan jiwa ini.. (starter motor dan cuss kita.... c u next page hihii..)

Kamis, 03 Januari 2013

Duhai Cinta

(nemu di komputer kantor lebaran lalu)

Duhai jiwa yang merindu belahan kalbu
duhai hati yang mendamba cinta tulus suci
t'lah terpatri kini rasa cinta yang sejati
dengan hadirmu disini..

Duhai cinta kau hadir isi kekosonganku
duhai rasa berjuta cita penuhi sukma
bersua didalam ikatan kasih nan murni
berdua bersama..

kuterima segala kekurangan dirimu
kuserahkan hati titip cintaku padamu
Tuhan tuntun langkah kaki tetap dijalanMu
menapaki indah rengkuh cinta bersama..



Rabu, 02 Januari 2013

Pilihan Kedua

Kesalahan ini terulang dua kali dan aku sadar.. benar-benar sadar.. 
Memang mungkin jiwa petualang yang muncul lagi walaupun sebenarnya sudah banyak yang terpangkas. Hampir semua pilihan dan kemungkinan  selalu aku ambil. Ya tentu pilihan yang terbaik atau pertama   menjadi incaran. Puncaknya adalah jadwal pulang sekolahku bergeser sampai lepas pukul 16.00 WIB, itu Senin-Sabtu, padahal anak SMA pukul 14.00 sudah nyaman di rumah mereka masing-masing. Senin melatih junior-junior Paskibra, Selasa dan Jumat latihan bela diri, Rabu ngumpul anak-anak KIR, Kamis gabung anak-anak Pecinta Alam dan Sabtu ikut Pramuka. Belum latihan tim sepak bola sekolah menjelang ada lomba atau lawan tanding. Semua ini untuk mengantarkanku menjadi siswa yang terbaik, menjadikan "lebih" dan selalu menjadi yang pertama dalam setiap bidang kegiatan. Dan alhamdulillah tercapai.. 

"Lalu untuk apa dulu Anda menandatangani kontrak ikatan dinas disana?" tanya pewawancara sebuah BUMN, perusahaan besar yang memang aku idamkan selapas kuliah S1. Pertanyaan itu terlau berat untuk sebuah proses wawancara melamar pekerjaan dari instansi yang bonafit. Melamar kerja disana disaat posisiku saat itu adalah pekerja pada instansi pemerintah yang dipandang orang cukup bagus. Tentu hampir semua orang setuju bekerja di BUMN itu akan menjadi pilihan pertama daripada instansi pemerintah.

Em.. Tertegun agak lama untuk memikirkan jawaban pertanyaan itu. Diingat-ingat, dulu masuk kampus ikatan dinas ini juga bukan pilihanku. Selepas SMA, aku sebenarnya sudah diterima kuliah di Fakultas Kedokteran sebuah Universits Negeri melalui jalur beasiswa. Namun, untuk biaya kuliah selanjutnya ortu harus menjual mabil satu-satunya milik keluarga yang sehari-hari dipakai untuk akomodasi bisnis ibuku. Rasanya berat untuk melanjutkan kuliah disini. Singkatnya, aku lepas juga pilihan pertama yang sebenarnya aku impikan sejak lama. Di sinilah titik PERTAMA aku benar-benar merasakan kehilangan yang amat sangat untuk sebuah PILIHAN PERTAMA.

Menjawab pertanyaan pewawancara dengan alasan pengembangan diri ternyata nilainya tidak seberat alasan untuk bertahan menjalankan komitmen awal yang telah dibuat. Ya, memang seharusnya komitmen itu dipegang erat. Walaupun bukan sebuah kesalahan ketika kita menginginkan memutus komitmen dengan resiko, nyatanya tetap saja tidak mampu mengganti tingginya nilai menghargai komitmen. Ditambah serangkaian jawaban yang kurang memuaskan-mungkin- akhirnya aku harus kembali tanpa memperoleh PILIHAN PERTAMA itu. Artinya, kembali pada kenyataan untuk menjalani PILIHAN KEDUA.

Tiba-tiba dalam perjalanan pulang menuju kosan, terpikir beberapa pertanyaan yang cukup perlu waktu menjawabnya. Kali ini aku harus benar-benar menanyakan diriku sendiri.
-apa benar itu PILIHAN PERTAMA bagiku?
-Lalu, apa semua orang menuju atau menjalani hidup dalam PILIHAN PERTAMA?
-Seberapa jauh PILIHAN KEDUA  daripada PILIHAN PERTAMA?
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu masih aku pikirkan dan mungkin Anda pikirkan karena kita yakin pilihan dan memilih adalah bagian dari setiap langkah hidup kita.

Ada saatnya nanti kutuliskan jawaban itu disini atau Anda telah menjawabnya sendiri.